the ostrich effect dalam utang
mengapa orang yang berutang cenderung takut membuka tagihan
Pernahkah kita pura-pura tidak melihat notifikasi yang muncul di layar ponsel? Bukan pesan dari mantan, melainkan email dari bank. Subjeknya: "Ringkasan Tagihan Kartu Kredit Anda". Tiba-tiba perut terasa mulas. Jari kita dengan cepat menggeser notifikasi itu ke samping. Hapus. Bebas. Seolah-olah kalau kita tidak membacanya, tagihan itu tidak pernah ada. Kita semua mungkin pernah melakukan hal ini. Kita menjauhkan layar, mematikan ponsel, lalu mencari pelarian dengan menonton video kucing di media sosial. Tapi, kenapa kita bertingkah seperti ini padahal kita tahu persis bahwa nominal utang itu tidak akan ajaib menjadi nol hanya karena kita diamkan?
Mari kita sepakati satu hal dulu. Teman-teman, kita melakukan ini bukan karena kita bodoh atau tidak bertanggung jawab. Apa yang terjadi di dalam diri kita sebenarnya jauh lebih kompleks dan berakar dalam dari sejarah evolusi manusia. Ribuan tahun lalu, leluhur kita dirancang untuk lari dari ancaman fisik yang terlihat. Ancaman itu wujudnya jelas, seperti harimau bergigi tajam atau beruang kelaparan. Sistem alarm di dalam tubuh kita sangat jago untuk urusan bertahan hidup semacam itu. Namun hari ini, "harimau" yang mengejar kita wujudnya sudah berubah. Wujudnya berupa angka merah muda di aplikasi pinjaman online atau rentetan pesan teks dari penagih utang. Masalahnya, perangkat keras di dalam tengkorak kepala kita belum sempat di-upgrade untuk membedakan antara ancaman dimangsa hewan buas dan ancaman denda keterlambatan bayar.
Di sinilah sains mulai bermain dan menjadi sangat menarik. Ketika mata kita menangkap kata "tagihan", bagian otak bernama amygdala—pusat rasa takut kita—langsung menyala terang. Otak seketika membanjiri tubuh dengan hormon stres yang bernama kortisol. Jantung berdebar lebih cepat, napas jadi lebih pendek. Otak primitif kita berteriak: bahaya! Reaksi natural dari rasa takut yang intens adalah fight or flight (melawan atau lari). Karena kita jelas tidak bisa "memukul" email atau "menendang" notifikasi, pilihan yang tersisa bagi otak adalah lari. Kita lari dengan cara menutup aplikasi. Tapi ini memunculkan satu pertanyaan besar. Secara logika rasional, kita sadar penuh bahwa menunda bayar utang hanya akan menambah tumpukan bunga. Logika kita tahu situasinya akan semakin hancur jika didiamkan. Lalu, mengapa otak kita seolah malah mensabotase kita dengan menyuruh kita kabur?
Jawabannya terletak pada sebuah fenomena psikologis yang dikenal dengan nama the ostrich effect atau efek burung unta. Mitosnya, burung unta akan mengubur kepalanya di dalam pasir ketika merasa terancam. Mereka seolah berpikir "kalau saya tidak melihat musuh, maka musuh tidak bisa melihat saya". Dalam dunia finansial, the ostrich effect adalah kecenderungan kuat kita untuk menghindari informasi negatif. Mengapa otak kita sangat menyukai trik ini? Karena ketika kita menutup tagihan tersebut, kecemasan kita turun secara drastis saat itu juga. Ada kelegaan instan. Otak kita tanpa sengaja memberikan hadiah berupa hormon penenang sesaat setelah kita menghindar. Kita sedang melatih otak kita sendiri untuk percaya bahwa "menghindari tagihan sama dengan merasa aman". Siklus ini pelan-pelan menjadi candu. Semakin sering kita menghindar, tumpukan utang itu akan terasa semakin menakutkan di kepala kita. Kita pun terjebak dalam ilusi memabukkan bahwa ketidaktahuan adalah sebuah kedamaian.
Jadi, bagaimana cara kita memutus siklus ini dan keluar dari jebakan? Langkah pertamanya adalah dengan berdamai pada rasa takut itu sendiri. Teman-teman, utang bukanlah harimau yang akan memakan kita hidup-hidup. Utang pada dasarnya hanyalah masalah matematika yang butuh diselesaikan secara sistematis. Kita bisa mulai dengan mengelabui amygdala kita secara perlahan. Jangan langsung memaksa diri melihat seluruh rincian utang dan bunganya jika itu terlalu mengerikan. Coba buka aplikasi atau email tersebut hanya selama lima detik hari ini. Besok, coba baca satu baris saja. Konsep ini di dalam dunia psikologi disebut exposure therapy atau terapi paparan. Dengan menghadapi rasa takut kita sedikit demi sedikit, kita sedang melatih ulang otak kita. Kita memberi tahu sistem saraf bahwa melihat tagihan ternyata tidak membuat kita mati. Menarik kepala dari dalam pasir dan melihat kenyataan memang sangat menakutkan pada awalnya. Namun, itu adalah satu-satunya jalan agar kita berhenti berlari, dan mulai mengambil kembali kendali atas kebebasan hidup kita.